Banjir
ibukota Jakarta menjadi agenda tahunan yang menjadi momok mengerikan bagi
pemerintah dan sebagian warga khususnya yang bermukim di sekitar bantaran
sungai, dampak banjir sangatlah luas hingga hampir 17,40% wilayah ibukota
terendam memang jika dibandingkan dengan tahun 2013 sekitar 17,73% wilayah
ibukota terkena dampak banjir, di tahun 2014 ini telah terjadi penurunan
presentase banjir.
Penyebab
utama dari banjir besar tahunan di Jakarta tak lain adalah sampah dan tata kota
yang semrawut, jumlah pendatang yang semakin meningkat tiap tahunnya menjadi
penyebab tata kota dan pemukiman yang semrawut dan pembalakan lahan hijau
secara liar untuk dijadikan pemukiman sehingga sistem drainase manjadi
terganggu dan menyebabkan air tergenang. Tidak hanya itu air kiriman dari Bogor
juga salah satu penyebab banjir besar ibukota, lahan daerah kaki gunung salak
yang seharusnya lahan hijau untuk penyerapan air sekarang banyak dibangun villa
liar.
Mungkin
saat ini di Asia Tenggara, hanya Jakarta lah ibukota negara yang aktifitas
maupun perekonomiannya dapat dilumpuhkan oleh hujan dan banjir jika terjadi
selama lebih dari 2 hari. Selain lumpuhnya perekonomian
dampak penyakit dan kerusakan yang disebabkan banjir sangatlah besar, contoh
penyakit yang sering timbul pada saat banjir ataupun sesudahnya adalah diare
(buang-buang air). Penyakit ini biasanya disebabkan oleh terkontaminasinya
sumber air. Kerusakan yang didera merugikan pemerintah hingga 20 triliun dan
menelan 20 korban jiwa pada tahun 2013.
Tindak kesiapsiagaan
warga, untuk meminimalisir dampak yang diakibatkan oleh datangnya banjir,
beberapa hal yang perlu dilakukan yang disebut tindakan kesiapsiagaan, yaitu :
1)
Kenali
daerah tempat tinggal dan daerah
sekitarnya; apakah cukup tinggi untuk terhindar dari banjir atau pasti akan
terkena banjir.
2)
Lakukan persiapan-persiapan untuk mengungsi.
Bila memungkinan, latihan pengungsian dapat dilakukan sebelumnya sehingga dapat
mengetahui jalur evakuasi, tempat evakuasi, dan tujuan evakuasi apabila terjadi
banjir.
3)
Sebarluaskan
informasi mengenai ancaman banjir serta dampak yang dapat terjadi pada saat dan
sesudah banjir sehingga masyarakat lebih siap menghadapi dan memperhitungkan
ancaman banjir.
Sebaiknya
Pemerintah bertindak tegas dengan memberikan sanksi untuk development villa
liar, memperbaiki kembali tanggul yang jebol dan mengaktifkan kembali/‘membersihkan’
waduk dari pemukiman liar dan sampah namun jika tidak dibantu dengan warga
segala upaya pemerintah menjadi percuma. Menurut hema saya edukasi sangatlah
penting, dengan mengajarkan pada anak kita untuk tidak membuang sampah
sembarangan hal tersebut memang sepele karena untuk mengantisipasi banjir kita
perlu untuk membiasakan dengan hal kecil tersebut agar terbiasa dan dapat
melakukan hal yang besar, misalnya mengajak warga bergotongroyong membangun
pabrik pupuk/kompos dari sampah ataupun kerajinan tangan yang terbuat dari
sampah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar