Manusia Dan Penderitaan

  • 0
Najamuddin "Kisah Anak Petani Yang Menjadi Pengusaha Sukses"





Lahir dan dibesarkan di keluarga miskin, membentuk karakter Najamuddin menjadi sosok pekerja keras dan pantang menyerah. Sejak kecil ia sudah harus melakoni pekerjaan yangsemestinya dikerjakan orang dewasa. Hanya dengan mengandalkan hasil panen sawah, itupun cuma beberapa petak, Jafarruddin dan Hj. Sanong, yang tak lain adalah ayah dan ibu dari sebelas anak, sangat keteteran membiayai kebutuhan keluarga. Jangankan memikirkan pendidikan Najamuddin beserta saudara-saudaranya, biaya hidup sehari-hari saja, sulitnya bukan main. .

Keadaan demikian yang menjadikan Naja kecil kala itu, sudah harus memikirkan hal-hal yang semestinya menjadi beban orang tua. Saat duduk di bangku sekolah dasar, Naja sudah harus bersiasat dengan waktu. Ketika waktu shalat Subuh baru saja berlalu, Naja sudah meninggalkan rumah, kala hari masih gelap. Dengan semangat khas anak Luwu, ia bergegas menyisir tiap jengkal semak belukar pedalaman di pinggiran kampung, mencari buah kelapa yang mungkin jatuh di malam tadi. Kalau kebetulan beruntung, kelapa tersebut ditenteng ke sekolah untuk ditukar dengan kue janda yang menjadi jajanan favorit saat itu. Kalau nasib lagi sial, terpaksa harus gigit jari menyaksikan teman-teman lainnya menikmati kue janda dikala istirahat belajar. Segera setelah pulang sekolah, Naja sudah ada di pinggiran kampung menggembala kerbau. Di kala musim tanam padi tiba, Naja harus ikut membantu orang tua membajak sawah. 

Pernah suatu ketika, Najamuddin harus membajak sawah pada jam dua malam, dan keesokan harinya naja harus mengikuti ulangan. Memasuki bangku SMP, Naja tumbuh menjadi pemuda usia belasan yang berbadan kekar. Dengan postur kekar dan kuat, sudah tentu sangat menguntungkan. Dengan begitu, ia merasa lebih percaya diri melakukan pekerjaan-pekerjaan lebih berat. Pekerjaan lebih berat tentu penghasilannya lebih besar, begitu fikiran Naja muda saat itu. Pada usia setamparan anak SMP, Naja menjadi kuli angkut, kuli bangunan, dan melakoni pekerjaan orang dewasa lainnya.

Saat truk angkutan barang dari Makassar tiba, Naja bersama beberapa orang di kampung, menjadi kuli angkut barang dari mobil ke toko-toko di sepanjang jalan di Belopa sampai di Bajo. Saat itu, diantara semua kuli angkutan, Naja adalah kuli termuda. Dari pengalaman menjadi kuli angkut tersebut, Najamuddin merekam dengan baik denyut nadi kegiatan bisnis di wilayah tersebut. Lewat rekaman peristiwa ini, naluri bisnis anak Luwu yang dilahirkan pada tanggal 23 Februari 1968 ini, kian tumbuh. Pendeknya, Najamuddin selalu berfikir untuk menghasilkan peser demi peser uang dari pekerjaan apapun, asalkan halal.

Najamuddin tidak pernah menyesal terlahir dan di besarkan dari keluarga petani yang miskin.  Sebagai anak kedua dari keluarga miskin di desa terpencil, Naja tidak pernah merasa risih apalagi gengsi melakukan pekerjaan yang menurut orang lain adalah pekerjaan kasar. Semua pekerjaan ini dilakoni hingga Najamuddin menamatkan bangku SMA di 1 Belopa.

Dari pengalaman hidup yang demikian berat dan menantang, sosok Najamuddin terbentuk menjadi pribadi yang tidak gamang menghadapi masa kini dan kikuk menatap masa depan.
Naja selalu berusaha menjadi yang terbaik dimanapun ia berada. Di ruangan kelas, meskipun sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja di luar jam sekolah, saya tidak pernah tinggal kelas, bahkan selalu menjadi juara kelas. Naja berprinsip, biarpun anak desa, tetapi harus selalu tampil beda, demikian semboyannya yang diulang berkali-kali selama perbincangan itu. Selepas SMA, Najamuddin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di Makassar, la masuk ke UMI (Universitas Muslim Indonesia). Disana, Naja mengambil jurusan hukum. Semester awal adalah masa paling berat bagi Naja saat itu. Sebagaimana mahasiswa di rantau yang mengandalkan kiriman dari orang tua, Naja tidak punya pengalaman demikian. Jangankan mengirimi uang, untuk hidup keluarga saja di kampung sangat berat. Pada saat yang sama, Naja tidak punya pilihan. la harus melanjutkan hidup di Makassar. Hal ini lagi-lagi memaksanya memutar otak menemukan siasat bertahan hidup (siasat survivalitas) untuk membiayai kuliah. Naja pun lalu memilih bergabung dalam kelompok pengusaha di Makassar. Dari sinilah, perlahan namun pasti, insting bisnis Najamuddin makin matang. Beberapa tahun setelah kuliah, Naja memilih hijrah ke Soroako. Disana ia dipercaya beberapa pengusaha lokal mengelola perusahaannya. Naja sempat mengendalikan empat perusahaan kontraktor di Soroako. Setelah mengetahui seluk beluk dunia kontraktor lebih mendetail, Naja pun mendirikan perusahaan kontraktor sendiri. Dalam rentang waktu lima tahun, Naja menjadi kontraktor tetap di PT Inco Soroako sampai saat ini. Tak berhenti disitu, Naja lalu mendirikan perusahaan penyedia jasa pengamanan. Perusahaan penyedia jasa pengamanannya mengalami perkembangan pesat. Saat ini, PT BPI sudah memiliki karyawan kurang lebih seribu orang yang dipekerjakan di perusahaan perusahaan BUMN dan swasta di hampir seluruh ka-bupaten di Sulawesi Selatan.

Setelah dirasa cukup mapan, dua tahun terakhir, Naja lalu memilih melakukan ekspansi ke Makassar. Tak butuh waktu lama, perusahaan Naja mampu mengambil peran penting di Makassar. Saat ini, perusahaannya merupakan salah satu mitra PT Gowa Makassar Tourism Development (GMTD), sebuah perusahaan konstruksi berskala nasional. Perjalanan hidupnya yang begitu pelik, keras dan penuh warna, membentuk sosok Naja menjadi pribadi pemikir dan pekerja keras. 


"BAYANGKAN, UNTUK MAKAN SAJA, KELUARGA NAJA MENGALAMI KEKURANGAN. BAGAIMANA MUNGKIN ANAK SEORANG PETANI MISKIN AKAN BERFIKIR MENJADI PEMIMPIN SAAT ITU".


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Tak ada yang bisa menduga nasib seseorang. Kalau anak seorang petani miskin bisa menjadi pengusaha sukses.


"NAJA ADALAH ANAK PETANI MISKIN. NAJA PERNAH JADI KULI ANGKUTAN. NAJA PERNAH JADI KULI BANGUNAN. NAJA PERNAH JADI BERANDALAN. HAMPIR SEMUA PEKERJAAN KASAR TELAH NAJA LAKUKAN. TETAPI, NAJA
 INGIN MEMBUKTIKAN BAHWA SEORANG ANAK PETANI YANG MISKIN MAMPU MENCIPTAKAN SEJARAH"

Tidak ada komentar: