Banyak
sekali kebudayaan yang sangat unik dan menarik dari Indonesia. Sebagai negara
kepulauan Negara Indonesia patut bangga dengan keanekaragaman seni dan budaya
yang tersebar di setiap daerah dan provinsi. Tapi anehnya, sebagai anak bangsa
kadang kita tidak mengetahui dan kadang melupakan kebudayaan sendiri, sementara
orang luar negeri malah tertarik dengan kebudayaan Indonesia yang unik, menarik
dan khas. Bahkan sebagian budaya Negara tercinta kita diklaim oleh negara
lain mulai dari reog ponorogo, dari batik, rendang, hingga lagu rasa sayange.
Sebenarnya jika kita lebih bisa mencintai dan mengenal Indonesia lebih dekat
lagi maka tidak akan terjadi hal seperti ini dan Indonesia adalah negara yang
kaya akan budaya dan keanekaragaman flora dan fauna serta hasil tambang dan
hasil alam yang berlimpah.
Budaya di Indonesia sangat banyak seperti budaya adat istiadat, tari tradisional, permainan tradisional, alat musik tradisional, rumah adat tradisional, dan masih banyak lagi.
Budaya di Indonesia sangat banyak seperti budaya adat istiadat, tari tradisional, permainan tradisional, alat musik tradisional, rumah adat tradisional, dan masih banyak lagi.
Disini saya akan
membahas Alat Musik Tradisional Sasando yang sudah mulai di lupakan oleh
generasi muda.
Alat
Musik Tradisional Sasando
Tak banyak yang tahu musik etnis Sasando ternyata
disukai sekelompok penikmat musik khas Indonesia di Australia dan Eropa. Tapi,
di Indonesia sendiri, dari 200 juta lebih penduduknya, banyak yang belum tahu
apa itu musik sasando, walaupun sudah tahu mereka mulai melupakan alat musik Sasando.
Apakah anda tahu apa itu musik sasando? Bagi masyarakat
Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, tempat asal usul musik sasando, musik tersebut
sangat dikenal sebagai musik keseharian. Musik itu berbahan baku daun pohon
lontar. Di Pulau Rote, pohon lontar pada saat ini bukan saja dijadikan sumber
kehidupan karena menghasilkan tuak, sopi, gula lempeng, gula semut, wadah
pembungkus tembakau/rokok, tikar, haik, sandal, topi, atap rumah, dan balok
bahan bangunan, melainkan lebih dari itu dianggap punya nilai lebih karena daun
pohon lontar makin sering dijadikan resonator musik yang dikenal dengan sebutan
sasandu atau sasando.
Sasando adalah sebuah alat musik dawai yang
dimainkan dengan dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote,Nusa Tenggara
Timur. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa
Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando ada
miripnya dengan alat musik dawai lainnya
seperti gitar, biola,kecapi, dan harpa.
Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang
yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke
bawah diberi ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) yang
direntangkan di tabung, dari atas kebawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini
memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando
ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan
tempat resonansi sasando
Asal mula alat musik langka itu, menurut banyak
tokoh adat di Pulau Rote, telah dikenali sejak Rote menjadi bagian dari daerah
kerajaan. Dalam legenda memang muncul banyak versi mengenai sejarah munculnya
sasando. Konon, awalnya adalah ketika seorang pemuda bernama Sangguana
terdampar di Pulau Ndana saat pergi melaut. Ia dibawa oleh penduduk menghadap
raja di istana. Selama tinggal di istana inilah bakat seni yang dimiliki
Sangguana segera diketahui banyak orang hingga sang putri pun terpikat. Ia
meminta Sangguana menciptakan alat musik yang belum pernah ada. Suatu malam,
Sangguana bermimpi sedang memainkan suatu alat musik yang indah bentuk maupun
suaranya.Diilhami mimpi tersebut, Sangguana menciptakan alat musik yang ia beri nama sandu (artinya bergetar). Ketika sedang memainkannya, Sang Putri bertanya lagu apa yang dimainkan, dan Sangguana menjawab, "Sari Sandu". Alat musik itu pun ia berikan kepada Sang Putri yang kemudian menamakannya Depo Hitu yang artinya sekali dipetik tujuh dawai bergetar.
Keindahan bunyi sasando mampu menangkap dan mengekspresikan beraneka macam nuansa dan emosi. Karena itu, dalam masyarakat Nusa Tenggara Timur, sasando adalah alat musik pengiring tari, penghibur keluarga saat berduka, menambah keceriaan saat bersukacita, serta sebagai hiburan pribadi. Kini musik sasando dikenal sebagai alat musik yang menghasilkan melodi terindah dari Pulau Rote.
Secara umum, bentuk sasando serupa dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Tetapi, tanpa chord (kunci), senar sasando harus dipetik dengan dua tangan, seperti harpa. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan memainkan accord. Ini menjadi keunikan sasando karena seseorang dapat menjadi melodi, bass, dan accord sekaligus.
Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Melingkar dari atas ke bawah tabung adalah ganjalan-ganjalan di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan dan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Tabung sasando ini diletakkan dalam sebuah wadah setengah melingkar terbuat dari daun pohon gebang (semacam lontar) yang menjadi tempat resonansi sasando. Hingga kini, semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando terbuat dari bahan alami, kecuali senar dari kawat halus.
Jenis-jenis sasando dibedakan dari jumlah senarnya, yaitu sasando engkel (dengan 28 dawai), sasando dobel (dengan 56 dawai, atau 84 dawai), sasando gong atau sasando haik, dan sasando biola. Karena itu, bunyi sasando sangat bervariasi. Hampir semua jenis musik bisa dimainkan dengan sasando, seperti musik tradisional, pop, slow rock, bahkan dangdut.
Cara
memainkan sasando adalah dengan dipetik seperti memainkan gitar. Tetapi sasando
tidak memiliki chord (kunci) dan senarnya harus dipetik dengan dua tangan,
sehingga lebih mirip harpa. Sampai sekarang hampir semua bahan yang dipakai
untuk membuat sasando adalah bahan asli, kecuali senarnya.
Tetapi, ada kalanya perbedaan pada cara permainan
tipe sasando tertentu tergantung gaya permainan di tiap daerah, kemampuan
pemain dan tidak adanya sistem notasi musik, khususnya untuk sasando gong..
Terdapat dua jenis ensembel sasando, yaitu yang terdapat di Pulau Rote, di mana sasando dimainkan untuk mengiringi nyanyian dan tabuhan gendang. Sedangkan di Pulau Sabu, dua buah sasando dimainkan bersamaan dengan iringan vokal, tetapi tanpa gendang. Dengan bentuknya dan bahan bakunya yang sederhana itu, tak aneh jika warga Australia dan Portugis setiap berkunjung ke NTT selalu membeli sasando. Musik itu kemudian menjadi musik kebanggaan di negerinya.
Terdapat dua jenis ensembel sasando, yaitu yang terdapat di Pulau Rote, di mana sasando dimainkan untuk mengiringi nyanyian dan tabuhan gendang. Sedangkan di Pulau Sabu, dua buah sasando dimainkan bersamaan dengan iringan vokal, tetapi tanpa gendang. Dengan bentuknya dan bahan bakunya yang sederhana itu, tak aneh jika warga Australia dan Portugis setiap berkunjung ke NTT selalu membeli sasando. Musik itu kemudian menjadi musik kebanggaan di negerinya.
Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Sasandohttp://www.negerikuindonesia.com/2015/10/sasando-alat-musik-tradisional-dari.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar